Mengenali Tanda-Tanda Child Grooming, menghindari Kekerasan Seksual pada Anak
Kerjasama Instalasi Psikologi
Melinda Bahri, S.Psi.,Psikolog
Psikolog Klinis
dengan Instalasi Promosi Kesehatan Rumah sakit (PKRS)
RSUD dr.H.Moch.Ansari Saleh

Jumlah kasus kekerasan seksual pada anak menunjukkan peningkatan laporan kasus pada tahun 2025. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), tercatat sebanyak 15.396 kasus kekerasan terhadap anak selama tahun 2025 atau naik dibandingkan tahun sebelumnya, 14.335 kasus. Dari bentuk kekerasan, kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan yang paling banyak dialami anak. Sepanjang tahun 2025, terdapat 11.049 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Jumlah tersebut menegaskan kerentanan anak terhadap tindak kekerasan berbasis seksual.
Dari banyak kasus pelecehan dan kekerasan seksual, diawali dengan upaya seksual Grooming. Seksual Grooming adalah cara seseorang membangun ikatan emosional dan kepercayaan dengan tujuan seksual, baik kekerasan, eksploitasi dan perdagangan (trafficking). Korban biasanya adalah anak, remaja dan dewasa yang rentan. Pelaku akan berusaha membangun hubungan dengan korban, mungkin mengambil peran sebagai pengasuh, berteman dengan anak, atau figure yang dapat dipercaya.Pelaku juga dapat membangun hubungan dengan orang dewasa di sekitar anak atau mencari anak yang kurang dalam pengawasan orang dewasa. Hal ini sebagai salah satu cara agar pelaku diterima oleh anak. Grooming dapat terjadi dimana saja, bisa di media online, komunitas, atau ditempat umum. Memahami seksual Grooming dan bentuk perilaku Grooming akan membantu mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak.
Tahapan Grooming :
- identifikasi target atau sasaran
- membangun kepercayaan
- berperan sebagai “orang penting” bagi korban
- mengisolasi korban dari lingkungan
- menciptakan hal-hal yang rahasia dengan korban
- mulai melakukan hubungan seksual dan mengendalikan hubungan dengan korban melalui intimidasi dan kerahasiaan.
Tanda-tanda Grooming pada anak :
- · Anak bersikap rahasia , termasuk apa yang dilakukan dengan telpon genggam dan komputernya, menghabiskan banyak watu dengan media online
•Mempunyai teman akrab /teman main yang lebih tua usianya.
•Menghabiskan banyak watu diluar rumah atau ke suatu tempat yang dirahasiakan
•Mempunyai benda-benda mahal yg tidak dapat dijelaskan
- Penyalahgunaan NAPZA
- Mudah marah dan menarik diri
Anak yang menjadi korban Grooming akan sulit menceritakan kejadian pada dirinya ke orang dewasa, hal ini karena :
- anak merasa malu
- anak merasa bersalah
- anak tidak merasa sedang mengalami “grooming”
- anak merasa bahwa mereka memiliki “pelindung” atau pacar.
Cara mencegah Child Grooming :
- Edukasi anak, ajarkan anak tentang batasan pribadi, sentuhan yang aman dan tidak aman, dan pentingnya berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya jika mereka merasa tidak nyaman.
- Komunikasi terbuka, ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman agar anak dapat berbicara secara terbuka dengan orangtua atau wali tentang apa pun yang terjadi dalam hidup mereka
- Pantau aktivitas online anak, awasi penggunaan internet dan media sosial anak, ketahui dengan siapa mereka berinteraksi secara daring
- Bangun kepercayaan diri anak, bantu anak membangun harga diri agar tidak mudah dimanipulasi oleh orang lain
- Kenali lingkungan anak, ketahui teman-teman anak, orangtua mereka, dan orang dewasa lain yang berinteraksi dengan anak.








Belum Ada Komentar